Conscience


CONSCIENCE

1  a : the sense or consciousness of the moral goodness or blameworthiness of one’s own conduct, intentions, or character together with a feeling of obligation to do right or be good
    b : a faculty, power, or principle enjoining good acts
    c : the part of the superego in psychoanalysis that transmits commands and admonitions to the ego
archaic : consciousness
: conformity to what one considers to be correct, right, or morally good : conscientiousness
: sensitive regard for fairness or justice : scruple
— con·science·less  adjective
— in all conscience or in conscience

   : in all fairness

ANIMISM
Animism

Rate This

Back to nature (in culture) [co-related, means] back to animism?

“Animism” is projected in the literature as simple religion and a failed epistemology, to a large extent because it has hitherto been viewed from modernist perspectives. Animistic ideas operate with in the context of social practices, with attention to local constructions of a relational person-hood and to it relationship with ecological perception of the environment, frame what they are concerned about as their authoritative (but not only) way to know things. (Bird-David, 1999).

Di Wikipedia disebutkan, Animisme berasal dari bahasa latin anima yang artinya “soul, life“[1]. Animisme dianggap sebagai faham atau pandangan keagamaan (religious worldview) bahwa alam seisinya (natural physical entities) termasuk binatang, tumbuhan, dan bahkan benda mati (inanimate objects) atau gejala (phenomena) memiliki suatu esensi spiritual (spiritual essence).[2][3] . Ini antara lain yang dimaksud “Animism is projected in the literature as simple religion and a failed epistemology, to a large extent because it has hitherto been viewed from modernist perspectives” di atas.

Istilah animisme secara khusus digunakan dalam ilmu antropologi agama (anthropology of religion) sebagai istilah bagi “the religion of indigenous tribal peoples“,[4] khususnya sebelum apa yang orang modern sebut sebagai civilization[5] dan pengakuan masal atas agama yang terorganisasi (organized religion).[6][7]

Animisme juga diartikan mencakup keyakinan bahwa tidak ada pemisahan antara dunia spiritual dan dunia material, dan spirits ada bukan hanya dalam diri manusia, melainkan juga dalam binatang, tumbuhan, batuan, gunung, sungai, dan seisi alam raya,[16] termasuk petir, angin, dan bayang-bayang.

Jejak animisme dapat di lacak dalam faham Shinto, Serer,Hinduism, Buddhism, Jainism, Pantheism, Paganism, dan Neopaganism. Dapat dikatakan menjadi animis adalah mengalami menjadi bagian dari alam semesta. Apa bedanya dengan perasaan Kristiani yang mengalami “being part of the body of Christ” atau Sitijenaris mengalami “manunggaling kawula-Gusti“?

Share this:

THEISME
Theism

Rate This

Religion definition is a set of beliefs concerning the cause, nature, and purpose of the universe, especially when considered as the creation of a superhuman agency or agencies, usually involving devotional and ritual observances, and often containing a moral code governing the conduct of human affairs. Religion means also as a specific fundamental set of beliefs and practices generally agreed upon by a number of persons or sects; the body of persons adhering to a particular set of beliefs and practices; The life or state of a monk, nun, etc.; or The practice of religious beliefs with ritual observance of faith. 1]

The Evolution of the Idea of God is a study of humans’ belief in God from primitive tribal religions to what considered the more advanced view. The main question explored here is “How did we arrive at our knowledge of God?” Rather than trying to prove or disprove any claims about the divine, the study of God simply traces the psychological processes that led humans to religious belief, and further, from a belief in polytheism to monotheism.

Theism
A brief history of polytheism and monotheism >> (link)

Polytheism

Polytheism is the worship or belief in multiple deities usually assembled into a pantheon of gods and goddesses, along with their own religions and rituals. Polytheism is a type of theism. Within theism, it contrasts with monotheism, the belief in a singular God. Polytheists do not always worship all the gods equally, but can be henotheists, specializing in the worship of one particular deity. Other polytheists can be kathenotheists, worshiping different deities at different times.

Monotheism

Monotheism (from Greek μόνος, monos, “single”, and θεός, theos, “god”) is the belief in the existence of one god or in the oneness of God.[1] The three major of monotheistic traditions are Judaism, Christianity, and Islam. The evolution of the idea of God according to Amstrong (1993) can be traced from its ancient roots in the Middle East up to the present day.

Another readings.

Hinduism
Christianity
Jesus is God? >> http://chirpstory.com/li/15685
Al Injil >> http://injil.org/
Islam
Al Qur’an >> http://quran.com/
114. An-Nas

Qul aAAoothu birabbi annas, [Say, “I seek refuge in the Lord of mankind,] (Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,)
Maliki annas. [The Sovereign of mankind.] (Penguasa umat manusia.)
Ilahi annas, [The God of mankind,] (Allah umat manusia,)
Min sharri alwaswasi alkhannas – [From the evil of the retreating whisperer -] (Dari kejahatan dari bisikan keraguan -)
Allathee yuwaswisu fee sudoori annas – [Who whispers [evil] into the breasts of mankind -] (Yang membisikkan [kejahatan] ke dalam dada manusia -)
Mina aljinnati wannas. [From among the jinn and mankind.”] (Dari kalangan jin dan manusia. “)
Sahih Bukhari >> http://sahih-bukhari.com/
Sahih Muslim >> http://www.sahihmuslim.com/
Share this:

NON-THEISM
Non-Theism

Rate This

Non-theism

Deism
Taoism
Budism

ATHEISM
Atheism

Rate This

Atheism

Ateis adalah seseorang yang tidak percaya pada Tuhan dan/atau menganggap konsep Tuhan tidak berarti (tanpa makna) atau tidak koheren (Baggini 2003). Berbeda dengan (meski banyak yang menganggap sama) agnostik yakni seseorang yang tidak yakin atau tidak memikirkan keberadaan Tuhan, atau yang percaya bahwa ada hal-hal tertentu (seperti keberadaan Tuhan), berada di luar lingkup pengetahuan dan pemahaman manusia (Eller 2005). Istilah lain yang umum dikaitkan dengan atheis dan agnostik antara lain mencakup “pemikir bebas”, “humanis”, dan “skeptis” (Pasquale 2009). Selain itu ada juga orang sekuler, yakni seseorang yang non-religius, atau tidak religius, atau umumnya tidak tertarik, acuh tak acuh, atau melupakan keyakinan, kegiatan dan organisasi agama (Kosmin 2007). Atheis, praktisnya mengacu pada seseorang yang ketika ditanya dalam survei “apa agama Anda” akan menjawab “tidak ada”.

Apakah Tuhan itu ada? Ribuan volume buku telah ditulis tentang masalah Tuhan, dan sebagian besar telah menjawab pertanyaan dengan tegas, “Ya!” (Smith. 2003. Atheism – Case Against God). Ateisme adalah minoritas. Membaca Atheism – Case Against God adalah melihat dari sudut pandang minoritas. Atheism adalah kritik langsung, filosofis dan psikologis, terhadap iman terhadap Tuhan. Subjudul – Case Against God – memiliki makna ganda: pertama, mengacu pada aspek filosofis terhadap konsep Tuhan, dan, kedua, mengacu pada aspek psikologis terhadap kepercayaan pada tuhan. Sebagai seorang filsuf, Smith sesungguhnya kagum dengan kepercayaan yang diberikan kepada klaim agama dalam komunitas intelektual, namun sebagai manusia, ia mengaku terkejut oleh kerusakan psikologis yang disebabkan oleh ajaran agama – yang sering memakan waktu bertahun-tahun untuk memperbaikinya.

Ateisme, bahkan di suasana liberal pun masih “tidak” dapat diterima. Meskipun arti-penting dari perpecahan di antara kelompok-kelompok agama cenderung menurun, batas antara beriman dan tidak beriman di Amerika tetap kuat (Edgell at al. AMERICAN SOCIOLOGICAL REVIEW, 2. 2006, VVOL. 771 (April:211–234)). Edgell et all membahas batas penerimaan Amerika terhadap ateis. Menggunakan data survei nasional terbaru, dapat ditunjukkan bahwa ateis lebih kecil kemungkinannya untuk dapat diterima, secara publik maupun pribadi, dibanding yang lain-lain dari daftar panjang kelompok-kelompok minoritas etnis, agama dan lainnya. Ketidakpercayaan terhadap atheis didorong oleh prediktor keagamaan, lokasi sosial, dan orientasi nilai yang lebih luas. Hal ini berakar pada dasar moral dan simbolik, alih-alih etnis atau materi. Edgall et al juga menunjukkan bahwa peningkatan penerimaan keragaman agama tidak meluas mencakup non-religius.

Bacaan lain:

Cacat logika agama (tautan)
Darimana kita berasal, kemana kita akan pergi? Saya tidak tahu. Kalau saya tahu jawabannya, saya sudah kaya raya. Oleh: @agamajinasi
Delusi agama (tautan1) Ciri delusi adalah : orang yang mengalaminya gak tau/gak sadar kalo dia berdelusi. (tautan2).
Share this:

AGNOSTICS

AGNOSTIC  is a person who holds the view that any ultimate reality (as God) is unknown and probably unknowable; broadly speaking one who is not committed to believing in either the existence or the nonexistence of God or a god.

Cacat logika agama (tautan)

Darimana kita berasal, kemana kita akan pergi? Saya tidak tahu. Kalau saya tahu jawabannya, saya sudah kaya raya.
By : @agamajinasi Delusi agama (tautan1) Ciri delusi adalah : orang yang mengalaminya gak tau/gak sadar kalo dia berdelusi.  (tautan2).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s