Peternakan


peternakan (pe.ter.nak.an)

Menurut KBBI “peternakan” adalah nomina (n) yang berarti:

“(usaha) pemeliharaan dan pembiakan ternak (nomina)”

Contoh:
“Koperasi kita merencanakan akan mendirikan ~ ayam”

Sumber: kbbi3

Isyu terkini peternakan di Indonesia adalah ”Program Pencapaian Swasembada Daging Sapi/Kerbau dan Peningkatan Penyediaan Pangan Hewani yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH)” yang menjadi mandat  Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang merupakan bagian dari Renstra Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2010-2014. Program ini diharapkan akan menghasilkan peningkatan ketersedian daging (sapi/kerbau) di dalam negeri sebesar 90% dari kebutuhan. Indikatornya adalah kontribusi produksi daging sapi domestik terhadap total penyediaan daging sapi/kerbau nasional. Dalam rangka pencapaian swasembada daging sapi/kerbau dan penyediaan pangan hewani yang ASUH, salah satu pendekatan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan akan ditempuh melalui pengembangan Kawasan Komoditas Strategis Peternakan dan Kesehatan Hewan yaitu Kawasan sapi potong, sapi perah, itik, domba/kambing, ayam lokal dan kawasan babi (Catatan penulis: ini ada yang nyelonong, katanya ASUH, kok ada babinya?). Pengembangan kawasan strategis ini merupakan keterpaduan kegiatan hulu sampai hilir yang mencerminkan fungsi Eselon II lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki tiap-tiapdaerah, lokasi kawasan komoditas peternakan strategis peternakan akan ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pertanian.

Untuk mendukung pencapaian program yang telah ditetapkan, lima kegiatan pembangunan peternakan dicanangkan:

  1. Peningkatan kuantitas dan kualitas benih dan bibit dengan mengoptimalkan sumber daya lokal. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghasilkan peningkatan kualitas dan kuantitas benih dan bibit ternak (sapi potong, sapi perah, kerbau, domba, kambing, babi {ada yang nyelonong, nih. katanya ASUH!?}, ayam lokal, itik) yang bersertifikat melalui: penguatan kelembagaan perbibitan yang menerapkan Good Breeding Practices, peningkatan penerapan standar mutu benih dan bibit ternak; peningkatan penerapan teknologi perbibitan dan pengembangan usaha investasi. Indikator kegiatan ini adalah peningkatan kuantitas semen, peningkatan produksi embrio, peningkatan kuantitas dan kualitas bibit sapi potong, peningkatan kuantitas dan kualitas bibit sapi perah, peningkatan kuantitas dan kualitas bibit kerbau, peningkatan kuantitas dan kualitas domba, peningkatan kuantitas dan kualitas kambing, peningkatan kuantitas dan kualitas babi, peningkatan kuantitas dan kualitas bibit ayam lokal, serta peningkatan kuantitas dan kualitas itik.
  2. Peningkatan produksi ternak dengan pendayagunaan sumber daya lokal. Kegiatan dimaksudkan untuk menghasilkan peningkatan populasi dan produksi ternak. Indikator kegiatan ini adalah pertumbuhan populasi dan produksi ternak (sapi potong, sapi perah, domba, kambing, babi {nyelonong lagi}, kelinci dan  unggas), serta proporsi produksi susu sapi domestik, terhadap total permintaan susu nasional.
  3. Peningkatan produksi pakan ternak dengan pendayagunaan sumber daya lokal. Kegiatan dimaksudkan untuk menghasilkan perkembangan usaha pakan dan bahan pakan, meningkatnya pemanfaatan hijauan pakan yang berkualitas, berkembangnya unit usaha pengolahan pakan, meningkatnya mutu pakan serta meningkatnya pelayanan di bidang pakan. Indikator kegiatan ini adalah meningkatnya produksi pakan, pendayagunaan sumberdaya lokal pakan ternak.
  4. Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan Menular Strategis, Zoonosis dan Eksotik (PHMSZE).  Kegiatan dimaksudkan untuk menghasilkan penguatan kelembagaan kesehatan hewan, pengendalian dan penanggulangan PHMS dan zoonosis, perlindungan hewan terhadap penyakit eksotik, serta terjaminnya mutu obat hewan. Indikator kegiatan ini adalah kemampuan mempertahankan status ”daerah bebas” PMK dan BSE, dan peningkatan status wilayah, penguatan otoritas veteriner melalui pertumbuhan jumlah Puskeswan yang terfasilitasi, penguatan otoritas veteriner melalui pertumbuhan jumlah lab veteriner kelas B dan C yang terfasilitasi, surveilans nasional PHMSZE (prevalensi dan atau insidensi), dan ketersediaan alsin dan obat hewan bermutu.
  5. Penjaminan pangan asal hewan yang ASUH dan pemenuhan produk hewan non pangan yang aman dan berdaya saing serta pasca panen. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghasilkan  penguatan peran dan fungsi lembaga otoritas veteriner, peningkatan jaminan produk hewan ASUH dan daya saing produk hewan, tersosialisasikannya resiko residu dan cemaran pada produk hewan serta zoonosis kepada masyarakat dan tersedianya profil keamanan produk hewan nasional serta peta zoonosis, serta peningkatan penerapan kesrawan di RPH/RPU. Indikator kegiatan ini adalah peningkatan penerapan fungsi otoritas veteriner, UPT pelayanan dan lab kesmavet melalui puskeswan, pertumbuhan terpenuhinya persyaratan dan standar keamanan dan mutu produk hewan pangan dan non pangan, persentase penurunan produk asal hewan yang diatas BMCM dan BMR, penurunan prevalensi dan atau insidensi zoonosis, dan meningkatnya jumlah unit usaha yang bersertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV).

Sumber: Pedoman Pelaksanaan PENGAJUAN PROPOSAL KEGIATAN TAHUN ANGGARAN 2013 KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN Desember 2011.

PRESENTASI PELATIHAN

  1. Ayam Potong
  2. ANALISIS FINANSIAL PEMBIAYAAN PETERNAKAN SAPI POTONG DAN PERAH
  3. Sapi Perah

One thought on “Peternakan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s