Tujuan Manajemen Keuangan

English: Diagram of the typical financing cycl...
Diagram of the typical financing cycle for a start-up company. (Photo credit: Wikipedia)

Proses keuangan dapat digambarkan sebagai aliran dana dari sumbernya (modal dan atau utang) menuju penggunaannya (investasi dalam aset) selama periode tertentu untuk menghasilkan nilai tambah yang merupakan selisih antara pemasukan dari biaya dan beban yang menyertainya.  Pendapatan atau laba merupakan tambahan nilai yang akan menaikkan nilai ekonomis kekayaan yang dikelola tersebut.

Kajian keuangan mencakup tiga dimensi utama, yaitu penggunaan (investment), pemerolehan (financing) dan pengelolaan (management) sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan, perorangan atau pemerintahan. Tujuannya adalah memaksimumkan nilai ekonomis dari sumberdaya yang dikelolanya itu. Pengertian memaksimumkan nilai ekonomis lebih luas daripada memaksimumkan laba sebagaimana sering dimodelkan dalam ilmu ekonomi. Mengapa? Laba sesungguhnya bukan tujuan akhir, melainkan “hanya” salah satu ukuran kinerja, selain produktivitas, efisiensi, risiko, dsb, yang harus diperhatikan agar dapat mencapai nilai maksimum yang menjadi tujuan.  Tidak jarang, misalnya, laba harus ditekan, atau targetnya diturunkan untuk menaikkan produktivitas, semata-mata agar tujuan memaksimumkan nilai dapat tercapai.

Mengapa konsep tujuan memaksimumkan laba tidak memadai dalam keuangan?  Memaksimumkan laba dalam praktek akuntansi yang lebih rinci akan menjadi upaya memperoleh pemasukan sebesar-besarnya dengan menggunakan biaya dan beban sekecil-kecilnya. Ada dimensi waktu yang diabaikan dalam proses pembentukan laba tersebut, yakni dalam jangka pendek periode yang dibutuhkan untuk proses memperoleh pendapatan itu, serta dalam jangka panjang cakrawala pemaksimuman nilai kekayaan ekonomis itu sendiri. Pendapatan niscaya diperoleh dalam periode tertentu, misalnya bulanan, triwulanan, atau tahunan. Dalam ilmu ekonomi sendiri sudah dipahami bahwa memaksimumkan laba dalam jangka pendek secara terus-menerus sekalipun tidak serta-merta memaksimumkan laba dalam jangka panjang. Dalam pengabaian dimensi waktu tersebut, terabaikan pula risiko yang dapat menyebabkan kerugian di masa yang akan datang serta beban yang diperlukan untuk menghilangkan risiko kerugian tersebut.

Sumber dan penggunaan dana lazim dibukukan dalam laporan dua segmen yang disebut neraca (yang dibahas dalam sub-bab di bawah). Segmen kanan mengikhtisarkan sumber (dari mana) dana diperoleh, apakah modal sendiri atau dengan ditambah utang. Segmen kiri mengikhtisarkan penggunaan (untuk apa) dana yang diperoleh digunakan. Pendapatan lazim dibukukan terpisah dalam laporan satu segmen yang disebut laporan pendapatan atau laporan laba rugi (yang juga akan dibahas di sub-bsb di bawah). Neraca menggambarkan posisi keuangan (atau sumber dan penggunaan dana) pada suatu titik awal waktu (neraca awal), dan posisi pada suatu titik waktu akhir (neraca akhir) setelah mengalami perubahan-perubahan yang direkam selama periode tertentu yang disepakati dan diikhtisarkan dalam laporan laba-rugi yang menggambarkan kondisi keuangan selama satu periode tersebut. Nilai tambah neto yang diperoleh selama periode laba-rugi, pada neraca kahir akan ditambahkan sebagai laba tidak-dibagi  yang merupakan sumber dana internal perusahaan dan dibukukan sebagai bagian dari modal (atau ekuitas) perusahaan.

Pemutakhiran oleh: Budi Purwanto, Bukit Cimanggu, Bogor, Januari 2013

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s